Memiliki anak yang hafal Al Quran merupakan kebanggan bagi keluarga
muslim saat ini. Pasalnya, proses menuju ke arah tersebut, dalam kondisi
saat ini tidaklah mudah. Apalagi dengan kondisi lingkungan pergaulan,
yang bisa menyeret anak-anak kita pada perilaku yang tidak baik.
Namun,
hal tersebut bukanlah hal mustahil untuk dilakukan. Dengan niat dan
tekad yang kuat, menjadikan anak sebagai penghafal Al Quran, bisa
diwujudkan. Hal itulah yang dilakukan oleh Wirianingsih dan Mutaminul
‘Ula, pasangan yang meskipun sibuk, tetapi menyempatkan diri untuk
mendidik anak-anaknya menjadi penghafal Quran. Tidak hanya satu atau
dua, melainkan 10 orang anak! Subhanallah.
Keduanya
bisa disebut luar biasa, karena jarang ada di rumah karena
kesibukannya. Wirianingsih menjabat sebagai Ketua Asosiasi Selamatkan
Anak sedangkan Mutaminul ‘Ula adalah salah seorang pendakwah yang sering
berada di luar rumah untuk memenuhi panggilan dakwah.
Berikut
ini adalah kisah bagaimana Wirianingsih bersama suaminya mendidik
anak-anak mereka menjadi penghafal Al Quran, yang disarikan dari Majalah
Ummi, edisi 4 Agustus 2009. Kondisi yang tergambarkan pada kisah
berikut, sesuai dengan kondisi pada saat diceritakan :
“Sebenarnya
kegiatan menjadikan anak-anak hafal Al Quran, laksana sebuah proyek uji
coba buat saya dan suami. Awalnya, kami memang sudah dekat dengan Al
Quran, lalu kami melihat di Arab sana, menghafal Al Quran adalah hal
yang biasa dilakukan masyarakat. Maka, saya dan suami berpikir, kalau
orang-orang Arab bisa menghafal Al Quran, kenapa kita tidak, kan Allah menciptakan kapasitas otak manusia sebenarnya sama.
Alhamdulillah,
proyek uji coba ini berhasil. Empat dari sepuluh anak saya sudah khatam
Al Quran, yaitu yang sulung, anak kedua, ketiga dan keempat. Anak yang
lainnya sudah hafal kurang dari 20 juz.
Buat
saya dan suami, pembelajaran Al Quran adalah hal yang tidak bisa
ditunda, sebab, Al Quran merupakan pegangan dan petunjuk hidup. Tidak
seperti matematika atau seni. Al Quran juga bukan bahas Indonesai yang
bisa diajarkan nanti-nanti. Kalau tidak dibiasakan sejak awal, tentu
akan sulit.
Jadi,
saya dan suami sudah mengajarkan Al Quran sedini mungkin kepada
anak-anak, bahkan ketika mereka masih dalam kandungan. Hingga anak
berumur 3 tahun, murottal Al Quran saya perdengarkan dalam segala
aktivitas anak dan tidak dicampurbaur dengan bunyi apa pun, termasuk
musik klasik.
Jadi,
metode pertama kali adalah mengakrabkan mereka dengan ayat-ayat Allah
dulu, membuat hal itu menjadi suatu kebiasaan hingga mereka pun jatuh
cinta pada Al Quran. Setelah anak-anak usia tiga tahun, saya perkenalkan
huruf hijaiyyah. Sehari minimal satu detik, saya ucapkan satu huruf
hijaiyyah ke anak-anak, terus menerus saya ucapkan. Lalu semakin hari
ditambah hingga membentuk kata, juga kalimat. Alhamdulillah, pada usia 4
tahun, anak sudah khatam jilid satu quroati dan di usia 6 tahun, sudah
bisa baca Al Quran. Selanjutnya, target kami sebelum masuk kuliah, anak
harus sudah bisa hafal Al Quran.
Kalau
dibilang kami ketat dalam mendisiplinkan anak-anak, memang benar. Dulu,
saya tidak mau menerima telepon sepenting apapun saat sedang menguji
hafalan anak-anak. Waku yang kami tetapkan untuk setoran hafalan adalah
Subuh dan Maghrib, minimal setengah halaman. Sekarang, anak yang besar
sudah bisa membantu, jadi kami tinggal mengontrol saja. Anak-anak pun
Alhamdulillah kooperatif alam mengikuti semua aturan yang kami buat.
Justru sebenarnya tidak terlalu sulit membentuk anak-anak, karena otak
anak-anak itu seperti spons, mudah menyerap dan mengikuti.
Bohong
jika kami tidak menemui kendala, baik kesehatan, ekonomi dan lingkungan
adalah contohnya. Tapi, semua itu janga dijadikan hambatan. Yang
terberat memang mengontrol lingkungan, apalagi seperti sekarang ini.
Saya pun tidak percaya kalau anak-anak tidak terkena imbasnya. Tapi,
lagi-lagi dengan komunikasi dan keterbukaan, kami bisa sama-sama
mengevaluasi dan mencari solusinya.” ***





0 komentar:
Posting Komentar